Sunday, October 19, 2008

Cara mendidik anak soleh

oleh Syeikh Muhammad Soleh Uthaimi
Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal- hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut

1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.

4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.

6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal- hal ini.

7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku- buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair- syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia- kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.

15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.

20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang- orang yang suka melakukan hal itu.
27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah- perintah.

30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.WaAllahu ta'ala a'lam.Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''" asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi http://mifty-away.tripod.com/id44.html



**Moga ALLAH subhanahu wa ta'ala memelihara kita dan keluarga kita dari api neraka, amin.


Friday, October 17, 2008

Renungan untuk kaum isteri

Renungan untuk kaum isteri

WANITA - TULANG RUSUK YANG BENGKOK
Walaupun hakikatnya bahtera rumah tangga itu sepatutnya dikemudikan oleh si suami namun era kini menyaksikan lebih banyak wanita yang lebih sensitif mengekalkan kerukunan. Maknanya wanitalah yang lebih banyak bersabar, menelan pahit maung kekurangan pendapatan atau menghadapi kerenah suami yang kadang kala membosankan. Wanita sepatutnya berbangga dengan kejayaan ini walaupun asalnya daripada tulang rusuk kiri lelaki yang bengkok.Nabi bersabda, wanita itu dicipta daripada tulang rusuk kiri lelaki yang bengkok, maknanya jika dibiarkan sikapnya yang tidak elok, maka begitulah ia kekal selama-lamanya. Lantaran itu andai si suami ingin memberi nasihat, hendaklah secara psikologi dan lemah lembut sehingga yang bengkok itu akan lurus. Sebaliknya jika menggunakan kekerasan, maka tulang yang bengkok itu akan mudah patah atau pecah.Misalnya jika isteri pemarah, membebel dan cakap banyak, si suami anggap sahaja ia cubaan yang amat kecil. Allah berfirman, "Apa yang kamu tidak suka, itu adalah yang terbaik untuk kamu." Namun dengan perkembangan hari ini, nampaknya dunia sudah terbalik, si lelaki pula nampak gayanya banyak yang bengkok, selarnya.CINTA DAHULU SEBELUM KAHWIN? Memang ramai yang membincangkan dua perkara ini sama ada cinta dahulu sebelum berkahwin atau berkahwin dahulu baru bercinta. Ada orang bercinta lama, selepas kahwin berasa jemu pula. Mulanya pasangan masing-masing buat perangai. Ada pula sarankan, lepas kahwin baru bercinta, mereka dakwa pula lepas kahwin baru pecah tembelang pasangan masing-masing. Maknanya, tidak ada kaedah khusus, ia bergantung kepada jodoh masing-masing, dedahnya.Beliau menambah, "Contohnya pasangan orang tua dahulu. Masing-masing tidak kenal tetapi keluarga aturkan perkahwinan. Lepas kahwin kita lihat mereka kekal sampai berpuluh-puluh tahun dan orang tua-tua dakwa cara begitu lebih baik. Sebenarnya itu bukan formula tetapi kebetulan. Maklumlah tinggal di kampung, pergaulan bukanlah seluas atau semoden golongan yang tinggal di bandar. Jika berlakupergaduhan, si suami tidak sampai hati menceraikan isteri, begitu juga si isteri jika minta cerai pun ke mana diri hendak dibawa?" soalnya.Sambungnya lagi, kedamaian hidup berumah tangga mesti dicatur sejak diawal perkenalan. "Mesti diselidik latar belakang pasangan kala peringkat pemilihan pasangan. Sekiranya pihak lelaki atau wanitamengikut kriteria yang dianjurkan oleh Islam, insya Allah akan ada kerukunan dalam perkahwinan. Namun jangan tersilap memilih, konon berkenan pasangan yang kuat agamanya. Kita hendaklah memandang dengan pandangan yang luas, bukan setakat sembahyang, puasa atau berzakat sahaja yang patut diambil kira. Antaranya hendaklah menjurus kepada nilai peribadi seseorang. Misalnya kesanggupan penerimaan kita kepada kerenah, gelagat atau tingkah laku pasangan. Kadang kala perangai lelaki membosankan dan tidak kurang ada yang menyejukkan, jika kita terima daripada awal maka redhalah sehingga akhirnya, kerana itulah suami atau isteri kita yang sebenar-benarnya.



LEPAS KAHWIN TERBONGKAR RAHSIA

Ditanya bagaimana mahu membelai cinta seandainya selepas berkahwin baru terbongkar rahsia keburukan pasangan, beliau mengulas. Memang sukar menelah kebaikan individu meskipun seseorang itu taat kepada ibadatnya. Pernah suatu ketika seorang lelaki menemui Saidina Omar dan berkata, bahawa dia telah memilih seorang lelaki untuk menjadi saksi. Lantas Saidina Omar bertanya, "Apakah engkau kenal lelaki itu?" Pemuda itu menjawab, "Tidak ya amirul mukmimin." Saidina Omar bertanya lagi. "Apakah engkau pernah bermusafir dengannya?" Orang itu jawab, "Tidak pernah," Bertanya lagi Saidina Omar, "Apakah engkau pernah berjiran dengannya? Orang itu menjawab,'Tidak pernah.' Lantas ditanya Omar lagi, "Macam mana engkau kenal dia? Dijawab si pemuda. Saya selalu tengok dia sembahyang maka yakinlah dia memang baik.' Omar berkata, "Engkau pergi dan selidiki lagi kerana engkau sebenarnya belum betul kenal kepadanya." Daripada kisah yang diriwayatkan maknanya, sekadar tengok seseorang sembahyang, berulang alik ke masjid atau membaca al-Quran belum bererti kita tahu perangai yang sebenar. "Seeloknya ajak dia bermusafir, baru tahu kedekut atau tidak. Berjiran dengannya, baru tahu perangai peribadi, dan jika berniaga bersama-samanya baru tahu amanah atau sebaliknya diri seseorang. Jika sudah kenal hati budinya barulah boleh dia dijadikan kawan atau saksi. Begitu juga apabila mencari pasangan, selidik dahulu latar belakang dan nilai peribadinya. Caranya dengan menghantar wakil atau orang tengah yang boleh diharapkan," sarannya.Namun tidak dinafikan, apabila suami berubah sikap misalnya tidak lagi mesra seperti dahulu, tidak mahu bergurau senda apatah lagi memupuk kasih dan sayang si isteri akan makan hati dan menderita.Namun jangan sesekali dibiarkan sehingga meresap ke dalam hati dan perasaan yang akhirnya menjadi kebiasaan. Apabila suami buat perangai, cepat-cepat ditegur. Supaya dia segera sedar yang perbuatannya itu salah. Jika isteri terlalu sabar dan redha dibimbangi akan meresap ke dalam hati dan menjadi kesedapan kepadanya. Memang kenyataannya apabila menegur atau melembutkan hati suami, mereka akan lebih keras dan kasar.Gelagat perubahan ini lebih ketara apabila si suami sudah mula senang sedikit. Balik lewat malam, bersenang-senang dan makan-makan dengan teman-teman atau pergi berpoya-poya. Sebab itu dikatakan orang, wang sahaja membawa kebahagiaan tetapi mengheret kepada kecelakaan. "Cara untuk mengatasi masalah suami yang berubah hati, si isteri tidak boleh membentak. Kerana lelaki yang berperangai begini, hatinya sudah keras. Si isteri mesti menggunakan pendekatan dengan cara yang paling lembut sehingga mereka sedar."Tidak dinafikan apabila si isteri berlembut, perangai suami semakin menjadi-jadi. Bagaimanapun cuba kita fikirkan, kalau membentak akan timbul pula permusuhan yang berpanjangan. Silap hari bulan, si suami memukul atau mendera si isteri. Diam isteri bukan bererti redha dan bersetuju dengan perangainya cuma sekasar mana pun lelaki, namun jauh disudut hati pasti mempunyai belas. Kasihan dengan si isteri yang cukup tenang, sabar dengan perangainya yang buruk," ujarnya.Tambahnya lagi, "Ada masanya suami mesti disentak dengan perkara-perkara yang tidak dijangka. Misalnya seorang isteri yang sebelum ini banyak cakap tiba-tiba mogok. Lepas masak diam, lepas makan diam, hendak tidur pun diam, maknanya perangainya berubah menjadi pendiam. Mungkin dengan cara itu dia mampu meluahkan perasaannya daripada marah tidak tentu pasal kemudian dicop suami, dia derhaka. "Seperti kisah seorang pemuda yang menyatakan hasrat mahu berkahwin tetapi dihalang oleh emaknya. Jadi dia mogok, kalau melawan, bimbang menderhaka kepada orang tua dan dia takut masuk ke dalam api neraka. Lantas dia diam sahaja sepanjang masa. Tidak makan, tidak minum, tidak tidur, sembahyang sahaja yang dilakukan. Lama-kelamaan ibunya bertanya, "Engkau sakit ke, asyik diam aja." Si anak menggelengkan kepala. Oleh sebab emak sayangkan anak, lantas >disuruhnya si anak berkahwin. Barulah si anak bersemangat dan bahagia. Dalam kes ini si anak terselamat, tidak menderhaka kepada ibunya dan dapat pula berkahwin," ceritanya.



TEGUR CARA BERHIKMAH

Ismail Kamus menambah, jika sukar atau tidak sampai hati menegur suami yang buat perangai, gunakan orang tengah. "Memang susah mencari yang boleh dipercayai tetapi itulah cabaran yang mesti dihadapi.Bagaimanapun cara penyampaian orang tengah itu biar betul dan kena caranya sehingga suami tidak menyalahkan si isteri. "Selain memberi nasihat, isteri hendaklah mohon kepada Allah dan bermunajat kepada-Nya tanpa jemu. Di samping itu bacalah surah Al-Imran, ayat 83 yang maksudnya:"Apakah selain daripada agama Allah mereka cari, dan baginya,menyerahlah sesiapa yang di langit dan yang di bumi, secara sukarela dan terpaksa dan kepadanya jua mereka dikembalikan.""Ayat ini hendaklah dibaca sebanyak 1,000 kali sehari. Apabila hendak digunakan baca tiga kali dan tiup kepada orang yang berkenaan atau ditiupkan ke dalam air untuk diminum oleh orang tersebut. Mudah-mudahan, berkat doa dan air itu akan lembut hatinya."Menjawab persoalan, bagaimana membelai cinta jika si suami asyik panas baran beliau menjelaskan. Apabila suami baran, isteri kena sabar dan redha kerana itulah suami kita. Orang yang baran sebenarnya ada masalah. Jiwanya sakit tenat dan perlu diubati. Perhatikan di mana kelemahan suami dan cari punca kenapa dia marah. Kemudian kita cari jalan supaya dia tidak marah. Umpamanya kalau isteri lambat masak, suami akan marah, jadi si isteri hendaklah menyegerakan memasak. Ataupun setiap kali balik kerumah, suami mesti hendak minum, jadi cari jalan cepat-cepat sediakan minuman. Ertinya kita hendaklah menutup segala punca kemarahan suami dan lama-kelamaan penyakitnya akan reda.Kalau dia yang menyalakan api kemarahan, isteri hendaklah mendiam diri. Jangan sesekali marah kerana marah itu bukan milik kita tetapi haknya. Jika kita tentang kemarahannya, ia akan lebih cepat terbakar atau merebak. Lagipun api bukan lawannya api sebaliknya hendaklah disimbah dengan air supaya padam. "Untuk meredakan, amalkan surah Toha ayat satu hingga enam dan baca sebanyak 1,000 kali. Tiup kepada ubun-ubun atau mukanya sehingga kepusat sebanyak tiga kali. Insya-Allah akan lembut hatinya. Antara maksudnya,"Tha, Ha, (Hai manusia), tiada Kami turunkan al-Quran ini supaya engkau mendapat celaka. Melainkan peringatan bagi orang yang takut (kepada Tuhan). Wahyu yang diturunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Tuhan yang Pemurah berkuasa di atas singgahsana. KepunyaanNya apa yang ada dilangit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara kedua-duanya dan apa yang ada di bawah tanah."Sebelum mengakhiri perbualan, beliau sempat menegur sesiapa sahaja yang masih mengabaikan rumah tangga sebaliknya hanya mahu berseronok dan berserakah, hendaklah segera bertaubat. Nabi bersabda, Barangsiapa yang telah melampaui 40 tahun namun kebaikannya tidak mengatasi kejahatan hendaklah dia bersiap sedia untuk masuk api neraka."

"Kasihnya Ibu membawa ke syurga ,Kasihnya Ayah Berkorban Nyawa"

Perkenalan pada ahli keluarga




Perkenalan pada ahli keluarga
Untuk permulaan aku nak kenalkan keluarga aku dulu Suami tercinta

Mohd Nazim bin Mohammed Sabilan dan aku Norhadjah binti Norman.

Anak pertama - Muhammad Nur Hakim

Anak kedua - Muhammad Akmal Rizal

Anak ketiga - Muhammad Arshad Firdaus

Anak keempat- Nurul Qistina Balqis

Sejak berumahtangga nie macam macam pahit manis dalam meneruskan perjalanan rumahtangga .baru aku sedar dalam berumahtangga nie kena ada 4 perkara


Pertama - Ilmu agama - Sekiranya tiada ilmu agama picanglah serta porank perandalah rumahtangga.

Kedua - Kewangan dan tanggungjawab -Kewangan adalah penting dalam perubahan zaman termasuk dalam pendidikkan yang serba canggih dan memerlukan kewangan yang cukup agar anak anak membesar dengan sempurna.

Ketiga - Kasih sayang - Tanpa kasih sayang kita akan hilang hormat menghormati juga hilang sifat bantu menbantu sesama sendiri .

Keempat - Budi Bahasa - Tiada budi bahasa maka timbulah caci mencaci dalam rumahtangga & sakit menyakiti.


Dalam rumahtangga nie umpama nakhoda di lautan kadang kada ia akan dilanda ombak basar dan gelora ynag tidak menentu maka pandaikan kita mengendalikan agar tidak karam dilautan. Alangkan lidah lagi tergigit apa lagi suami isteri.